Showing posts with label Ulama Tanah Jawa. Show all posts
Showing posts with label Ulama Tanah Jawa. Show all posts

Friday, May 18, 2012

Penyebar Kitab Manakib Jawahirul Ma’ani DiJawa Tengah

Penyebar Kitab Manakib Jawahirul Ma’ani DiJawa Tengah Yaitu beliu Syeh Ahmad Jauhari Umar
Kitab Manaqib JAWAHIRUL MA’ANI adalah manaqib (riwayat hidup yang menceritakan tentang Sulthonul Auliya’ Syech Abdul Qodir Al Jilani (ada yang menyebut Al Jaelani). Mulai dari Kelahirannya, perjalanan beliau menuntut ilmu, karomah-karomahnya sampai pada wafatnya.

Kitab Manaqib ini di susun oleh seorang ulama Almarhum Almagfurillah KH. Ahmad Jauhari Umar. Dulu beliau pemimpin Pondok Pesantren Darus Salam, Pasuruan Jawa Timur.
KH. Ahmad jauhari umar mengajarkan dan ‘mengijazahkan’ manaqib ini kepada para murid-murid beliau. Dari murid-murid beliau inilah manaqib ini akhirnya tersebar luas ke seluruh nusantara bahkan mungkin sampai ke negara tetangga juga.

Wednesday, March 14, 2012

Ulama-Ulama tanah Jawa ,Penyebaran Islam Di Indonesia

Para ulama pembawa Islam ke tanah Jawa telah mampu menjadikan Islam sebagai substansi budaya Jawa
Berbeda dengan pengembangan Islam di daerah lain, maka yang terjadi di Jawa lebih bercorak bottom up Islamization yang berlangsung secara intensif dan terus menerus selama ratusan tahun. Sebab bukan sebuah pekerjaan mudah, memahamkan Islam pada masyarakat yang secara kultur sangat berbeda dengan kultur tempat lahirnya Islam, yakni Jazirah Arab.
Ketika pertama kali menjejakkan kakinya di Pulau Jawa, para duta Islam masuk dalam masyarakat yang sama sekali masih asing dengan terma-terma agama tauhid. Saat itu, agama dan kepercayaan yang berkembang di Jawa adalah Hindu, Budha dan aneka kepercayaan lokal masyarakat yang bertumpu pada pemujaan terhadap arwah leluhur.
Kenyataan seperti itu telah menjadikan para ulama penyebar Islam di Jawa melakukan proses kreatif dalam berdakwah. Para ulama berhasil melakukan Islamisasi bahasa, sehingga elemen-elemen kunci dalam kebudayaan Jawa dipahami dalam kerangka Islamic worldview. Dalam perkembangan selanjutnya, para ulama pembawa Islam ke tanah Jawa telah mampu menjadikan Islam sebagai substansi budaya Jawa. Perubahan tradisi dari sesaji (persembahan untuk makhluk halus) menjadi selametan (ungkapan syukur kepada Allah Subhanaha wa Ta’ala) bukan sekedar islamisasi mantra menjadi doa, akan tetapi lebih merupakan sebuah perubahan radikal dalam kosmologi Jawa.
Pertunjukan wayang, yang merupakan kesenian paling populer juga mengalami demitologisasi yang luar biasa. Hal ini tercermin dalam pendapat Kuntowijoyo, ”Justru wayang “mencemari” Hinduisme dengan mengadakan demitologisasi secara besar-besaran. Ketika Betara Guru berebut perempuan dengan Betara Wisnu, ketika Betara Guru iri hati pada Arjuna karena sebutannya sebagai lelaki sejati di jagad raya. Ketika dewa-dewa dikalahkan raksasa Niwatakawaca dan harus meminta bantuan Arjuna, itu semua sebenarnya adalah pelecehan terhadap pantheon Hindhu. Wayang tidak lebih dari dongeng yang banyak terdapat dalam kebudayaan Islam seperti jin, raksasa dan tukang sihir.”
Posisi kisah dalam wayang menjadi sejajar dengan dongen Kancil Nyolong Timun, yang tidak lagi menjadi pandangan metafisika orang Jawa, tetapi lebih sebagai tempat untuk belajar hikmah tentang kehidupun. Dalam perkembangannya, ada lakon yang memang diciptakan oleh para ulama, seperti lakon Dewa Srani, sebuah karya dari Sunan Giri yang memberikan peringatan dini bahaya kristenisasi.
Dari sini, istilah pribumisasi Islam para wali yang sering diartikan oleh beberapa kalangan sebagai akulturasi Islam dan kejawen menjadi tidak tepat. Sebab dalam tembang dan geguritan karya para ulama Jawa tersebut, lebih merupakan pembahasaan dakwah Islam secara Jawa. Sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam untuk berbicara dalam bahasa kaumnya.
Karena itu, tidaklah mengherankan bila para pujangga kraton, yang selama ini diklaim mewakili pandangan sinkretik Hindu – Islam seperti Ranggawarsito juga merupakan hasil didikan pesantren. Ranggawarsito dalam Serat Centhini juga menggambarkan orang Kristen adalah mereka yang menyembah Kanjeng Nabi Isa. Sebuah pandangan yang tentunya berangkat dari worldview Islam. Sehingga dapat dikatakan bahwa distorsi identitas yang ditujukan untuk memisahkan orang Jawa dari Islam tidak pernah berhasil.

Tuesday, February 28, 2012

Sejarah Kyai Chudlori ,Pondok pesantren TegalRejo

Sebagaimana ditunjukkan Dhofier3, hampir semua pesantren besar di Jawa didirikan oleh keturuna kiai. Dhofier menunjukkan bagaimana tiga puluh kiai terkenal hampir semuanya pendiri atau pemimpin pesantren besar di Jawa – mempunyai keturunan dari moyang yang sama, yaitu Kyai Shihah, pendiri pesantren Tambak Beras, Jawa Timur, tahun 18314. Hiroko ketika melakukan penelitian di Cipari Jawa Barat5 juga menemukan bahwa kiai dari beberapa pesantren di daerah ini adalah keturunan Zaenal Abidin, seorang ulama dan cikal bakal desa. Seorang Antropolog lain, Baeley mencatat pola yang sama dari Nangoh, Jawa timur. Enam pesantren ini dibangun oleh kyai-kyai keturunan Kyai Haji Munasan, pendiri pesantren pertama.6
Pesantren Tegalrejo yang didirikan oleh Kyai Chudlori pada tahun 1944, merupakan pengecualian, karena pendirinya bukan berasal dari keluarga kyai, tapi dari priyayi. Ayah Kyai Chudlori, Ihsan seorang penghulu di Tegalrejo dibawah pemerintahan Belanda. Kakeknya, Abdul Halim, juga seorang penghulu yang menangani administrasi urusan agama di daerah pedalaman kabupaten Magelang yang meliputi kecamatan Candimulyo, Mertoyudan, Mungkid dan Tegalrejo. Pada zaman Belanda, seorang penghulu dan keluarganya dihormati sebagai priyayi7.
Chudlori dilahirkan di Tegalrejo, anak kedua dari sepuluh bersaudara. Ibunya,Mujirah adalah putri Karto Diwiryo yang menjadi Lurah di Kali Tengah, dekat kota kecamatan Muntilan. Meskipun seorang priyayi, ayah Chudlori menginginkan paling tidak satu dai anak-anaknya menjadi kyai. Kenyataannya bahwa Tegalrejo bukan kota religius, semakin menyakinkan dirinya untuk berbuat sesuatu bagi para warganya. Abdullah (84), orang tua yang tinggal dekat pesantren, menceritakan kepada saya bahwa desa – desa sebelah timir Tegalrejo seperti Soroyudan, Tepus, mBalak, pernah menjadi sarang bandit-bandit yang terkenal jahat. Perampokan, pencurian, perjudian, dan sabung ayam tersebar luas.