Saturday, October 22, 2011

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah Selama Tiga Hari Tidak Makan Apa-apa

Sejarawan dan ahli nasab, Ibnu Sa’ad, berkata di dalam kitabnya Ath-Thabaqatul Kubra,VI: 372, saat membicarakan Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah (lahir tahun 97 H, dan wafat tahun 161 H), “Sufyan Ats-Tsauri bersembunyi dari Khalifah Abbasiyyah Al-Mahdi karena suatu kalimat kebenaran yang ia katakan, dan membuat Al-Mahdi marah. Al-Mahdi mencarinya untuk menghukumnya. Maka, Sufyan Ats-Tsauri bersembunyi di Mekah dan tidak muncul di hadapan khalayak. Pada waktu itu, ia mengalami kemiskinan dan kesulitan hidup yang sangat berat. Saat ia dalam keadaan miskin dan sulit ini, saudara perempuannya mengirimkan sekantong khusykananaj kepadanya dari Kuffah melalui kawannya, Abu Syihab Al-Hannath. Abu Syihab Al-Hannath pun tiba di Mekah. Saat ia bertanya tentang Sufyan, maka ditunjukkan kepadanya, bahwa boleh jadi Sufyan sedang duduk di balik Ka’bah setelah pintu Al-Hannathin. Abu Syihab berkata, “Aku pun pergi ke tempat yang di maksud, Sufyan adalah kawanku. Aku melihatnya tengah terlentang, lalu aku memberinya salam. Namun, tidak bertanya apapun seperti biasanya, dan tidak menjawab salamku. Aku berkata padanya, “Sesungguhnya saudara perempuanmu mengirimkan satu kantong kue dan khusykannaj untukmu.“ Ia berkata, “Bawa sini cepat.” Lalu ia pun duduk. Aku berkata, “ Wahai Abu Abdillah, aku datang kepadamu, tetapi kamu tidak menjawabnya. Namun, ketika aku katakana kepadamu bahwa aku membawa sekantong kue yang tidak seberapa harganya, maka kamu segera duduk dan berbicara kepadaku.” Ia menjawab, “Wahai Abu Syihab, jangan menyalahkanku sudah tiga hari ini aku tidak makan apa-apa.” Abu Syihab pun berkata, “Ya,aku memakluminya.”

Hidayah Islam perjalanan Kehidupan Nabi Muhammad

Kehidupan Agama Pada awalnya, mayoritas Bangsa Arab mengikuti Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, yaitu ajaran tauhid untuk beribadah hanya kepada Allah Ta’ala. Setelah berlalunya waktu yang panjang, mereka melalaikan hal tersebut, walaupun ada sisa-sisa peninggalan ajaran tauhid Nabi Ibrahin ‘alaihissalam. Hingga suatu saat di Mekah tersebutlah seorang yang bernama Amr bin Luhay dari suku Khuza’ah yang sangat dihormati dan dimuliakan kaumnya karena kedermawanan dan prilakunya yang baik. Suatu ketika, ia pergi ke Syam dan di sana melihat masyarakatnya menyembah berhala sebagai bentuk ibadah. Ia menyimpulkan bahwa itu adalah perbuatan baik. Sekembalinya dari Syam, Amr pun membawa berhala yang bernama Hubal dan meletakkannya di ka’bah. Lalu dia mengajak kaumnya untuk melakukan apa yang dilakukan penduduk Syam. Karena pengaruh kedudukannya, tak lama penduduk Mekah pun menjadi penyembahan berhala dan menjadi agama baru bagi mereka. Ajaran tersebut dengan cepat menyebar ke wilayah Hijaz (Mekah dan sekitarnya) hingga menyebar luas meliputi Jazirah Arabi. Bahkan, di sekitar Ka’bah ada ratusan berhala yang disembah. Dari sanalah mulai lagi bermunculan berbagai bentuk kesyirikan, bid’ah, dan khurafat di masyarakat Arab. 2. Kehidupan Sosial Struktur kehidupan sosial masyarakat Arab berkelas dan bersuku-suku. Adanya pemandangan yang sangat kontras antara kaum bangsawan dengan segala kemewahan dan kehormatannya dengan rakyat jelata dengan segala kekurangan dan kehinaan yang tak terperi. Kehidupan antar suku pun penuh dengan persaingan yang sering mengakibatkan pertikaian dengan bumbu fanatisme kesukuan yang kental. Setiap anggota suku pasti membela orang yang satu suku dengannnya, tak peduli perbuatannya benar atau salah, sehingga terkenal ucapan di antara mereka, أنصر أخاك ظالما أومظلوما “Bantulah saudaramu, baik dia berbuat zalim atau dizalimi.” Perlakuan terhadap wanita juga tak kalah zalimnya. Laki-laki dapat melakukan poligami tanpa batas, bahkan dapat menikahi dua bersaudara sekaligus. Demikian pula mereka dapat dapat menceraikannya sesuka. Sementara itu perzinahan merupakan masalah biasa. Bahkan ada suami yang memerintahkan istrinya tidur dengan laki-laki lain semata-mata ingin mendapatkan keturunan mulia dari lakilaki tersebut. Kelahiran anak perempuan menjadi aib yang berat mereka tanggung, bahkan dikenal di sebagian mereka istilah wa’dul banat (mengubur anak wanita hidup-hidup). Perjudian dan minuman keras juga merupakan hal yang sangat lumrah dilakukan di tengah masyarakat, bahkan menjadi sumber prestise tersendiri. Kesimpulannya, kondisi sosial mereka sangatlah parah, sehingga kehidupan berlangsung tanpa aturan layaknya binatanag. 3. Kondisi Ekonomi Masyarakat Arab adalah masyarakat pedagang. Sebagian kecil penduduk pinggiran negeri, hidup secara bertani dan memelihara hewan ternak. Mereka belum mengenal dunia perindustrian. Hasil-hasil produksi biasanya mereka dapatkan dari Yaman atau Syam (Syam pada masa sekarang meliputi Palestina, Lebanon, Yordan, dan Suria). Kemiskinan cukup mewarnai kehidupan masyarakat, meskipun ada sejumlah pedagang besar dan bangsawan. 4. Akhlak terpuji Betapapun demikian, bangsa Arab masih memiliki beberapa akhlak yang sangat terpuji, walau kadang ditampilkan dengan cara yang salah. Diantaranya adalah kedermawanan, memenuhi janji, menjaga kemuliaan jiwa dan pantang dihina, pemberani, lemah lembut suka menolong dan sederhana.

Thursday, October 20, 2011

Karena Hidayah Adzan Subuh Orang terpangil untuk Mukalaf

Awalnya, suara adzan Subuh adalah "musuh" bebuyutan Wahyu Soeparno Putro. Ia merasa, suara itu sangat terganggu tidurnya. Namun siapa nyana, suara adzan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf -- seorang pemeluk Islam. Sepenggal kesaksian spiritual itu seperti tak pernah bisa dilupakan pada ingatan lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963. Termasuk ketika berbincang santai kepada Republika yang menemuinya di sela-sela kesibukannya melakoni syuting sebuah program televisi di Jakarta, Senin (4/6) lalu. Kenangan itu ibaratnya telah menjelma menjadi semacam sebuah napak tilas spiritual tertinggi bagi pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith. Ia antusias -- walau kadang dengan berkaca-kaca -- menceritakan kisah yang dilaluinya sekitar 12 tahun silam. Tepatnya, sekitar pada 1999 atau lima tahun setelah pengelanaannya ke Yogyakarta. Dale saat itu datang ke Yogyakarta dari Australia untuk mencari nafkah dari perusahaan kerajinan yang memekerjakan sedikitnya 700 karyawan. Di Kota Gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita Dale ini kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno. Rumah Soeparno ini letaknya hanya sepelemparan batu saja ke arah masjid. Karena tak jauh dari masjid, tak mengherankan kalau setiap pagi suara adzan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Dale selalu terbangun di pagi hari. Bahkan setelah menetap cukup lama di rumah Soeparno itu, dia selalu terbangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ''Ini yang membuat saya heran,'' katanya. ''Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.'' Di tengah proses menemukan 'hidayah', Dale yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun itu kemudian mulai banyak bertanya-tanya tentang Islam. Hal-hal sederhana tentang Islam seperti sholat sampai puasa menjadi pertanyaan yang mengusik batinnya. Terkadang ia pun tak sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekannya yang menganut Islam. Pergaulan yang kian terjalin akrab dengan lingkungan Yogya itu ternyata melahirkan pula sebuah sikap toleransi beragama pada diri Dale. Ketika Ramadhan tiba dan rekan-rekannya berpuasa, dia seakan terpanggil untuk 'ikut-ikutan' berpuasa. ''Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,'' kata dia. ''Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata sudah full hingga puasa tahun kemarin,'' sambungnya dengan penuh bangga. Eksperimentasi dalam menjalani ibadah puasa maupun rutinitas bangun pagi menjelang adzan Subuh itu kemudian memberikan pula semacam perasaan tenang yang menjalar di dalam diri Dale. ''Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,'' katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia. Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustad bernama Sigit. Ustad ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno. ''Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,''Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu','' kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit. Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ''Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,'' kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ''Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,'' ujarnya lagi. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustad itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora. Di saat hasrat di dalam diri semakin 'merasa' Islam, Dale kemudian bertanya pada Soeparno. ''Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,'' kata dia kepada Soeparno. ''Tetapi bagaimana caranya,'' sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit. Lantas tidak membutuhkan waktu lama lagi, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi 'hijrah' itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap "mengganggu" tidurnya....

Akhirnya Mary memilih Islam Sebagai Agama Dunia Akherat

Mary Fatima Kaouch terlahir dari keluarga yang memegang prinsip iman Katolik, 1964 silam, di kota Rosrath, Negara bagian Nordrhein Westfalen, Jerman. “Sejak kecil saya dididik dengan agama Kristen katolik. tapi Alhamdulillah, waktu lahir ayah saya memberikan nama Fatima dan ibu memberikan nama Maria. Dari situ sebetulnya perjalanan Islam sudah mulai,” ungkap Siti Maryam sepenggal waktu lalu. Ia memulai pendidikan dasarnya di Jerman selama 9 tahun. Setelah itu ia melanjutkan ke jenjang sekolah kesejahteraan keluarga yang diselesaikannya selama 2 tahun. Berbeda dengan siswa lain di Sekolah Dasar, Mary banyak sekali bertanya tentang ajaran agama yang dianutnya. Kenapa Isa disebut anak Tuhan? kenapa Adam tidak disebut anak Tuhan? Kenapa Maria disebut ibu Tuhan? Dan pertanyaan lain yang mengusik hatinya. “Banyak orang yang yang menghindari pertanyaan saya. Ada yang tidak dijawab, ada yang dijawab seadanya, ada yang bilang kapan-kapan lagi saya jawab, ada yang bilang nanti kalau kamu sudah besar. Semua itu tidak memuaskan rasa penasaran saya,” kata penulis buku Hidayah dan Inayah ini. Negara Jerman, tempat rezim Fasis, Nazi, pernah berjaya ini melarang warganya membahas masalah agama. Kondisi seperti ini sangat menekan Mary sehingga tidak bisa leluasa mencari kebenaran yang selama ini tidak ditemukan dalam ajaran katolik yang dia anut. Akhirnya di usia yang masih muda, 16 tahun, Mary keluar dari agama Katolik dan merasa tidak tertarik lagi menanyakan kegelisahannya kepada orang lain. Mulai saat itu ia mengikuti suara hatinya. Mary tergolong anak ‘bengal’. Setiap kali diminta ke Gereja, ia turut. Namun, begitu tiba di depan pintu, Mary malah berputar arah ke restoran. “Bagi saya tidak penting berdoa di Gereja. Langsung saja berdoa kepada Tuhan (Gott) dari hati saya,” tutur Mary, setelah nyaris putus asa menemukan kebenaran ajaran agamanya. Tak hanya itu, Mary bahkan termasuk perokok berat. Setiap hari ia bisa menghabiskan 3 bungkus rokok merk Marlboro. Kebiasan menghisap zat adiktif ini berhenti total ketika ia masuk Islam, kelak. Meskipun ‘bengal’, Mary terbilang sukses di dunia pendidikan. Di Sekolah Kesejahteraan Keluarga, Mary lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, bahkan mendapat penghargaan dari pemerintah, atas prestasinya itu . Selepas itu, hobi masak yang dimilikinya sejak kecil mendorong dia untuk melanjutkan pendidikan ke sekolah kejuruan, Gastronomi, selama 3 tahun. Selama menempuh studi, Mary banyak mengikuti perlombaan memasak di hotel berbintang 3 hingga 5, dan selalu menjadi juara. Menginjak usia 19 tahun, selain kuliah, Mary pun bekerja paruh waktu di hotel Haus Lyskirchen, Jerman, yang diisinya di hari libur. Setelah dua tahun, Mary pindah ke hotel Intercontinental di kota Koln. Karena kejeniusannya Mary memperolah penghargaan Grand Diner Amical Des Grand Chapitre L’europe tahun 1985 (Koki terbaik dalam penyediaan Makan malam yang besar dan eksklusif). Setahun kemudian ia pindah lagi ke hotel Haus Lyskirchen di koln yang jaraknya kira-kira 30 km dari kota bonn dan mendapatkan kembali penghargaan Diner Amical. Selang 6 bulan ia ditawari jabatan sebagai Kepala Eksekutif di hotel Haus Lyskirchen. Namun Mary malah memilih mundur dan membuka restoran pribadi. Mary dengan usia yang masih relatif muda telah menjadi pengusaha sukses. Akan tetapi, uang yang banyak tidak membuat Mary merasa tenang. Masih ada sesuatu yang tetap mengusik hatinya. Inilah yang membuat Mary selalu berpindah-pindah tempat. Belum puas meraup uang dari restoran pribadinya, Mary kemudian bekerja sebagai Bandar Judi di salah satu Kasino di Bonn Jerman. “Perolahan uang yang cukup besar tidak memberikan kebahagiaan yang dicari. Hidup dengan hati gelisah karena melihat kerusakan hati orang lain. Lalu seorang kolega mendorong saya keluar dan mencari jalan baru,” urai wanita yang sempat menjadi nara sumber International Seminar and Workshop on Education di beberapa perguruan tinggi di Bandung dan Jakarta ini. Suatu hari saat Mary berada di kafetaria ia bertemu dengan warga muslim Indonesia yang bekerja di kedutaan Besar Indonesia di Jerman, bernama Pandji Abdullah Garna. “Saya habis kerja selalu ketemu dia di kafetaria, karena dia sama koleganya main catur setiap sore di kafetaria. Kita saling menatap dan akhirnya kenalan. Allah yang sudah mengaturnya,” tutur penggemar minuman Capuccino ini. Sekitar 4 tahun berkenalan, Mary kemudian diajak menikah oleh Pandji di negerinya, Indonesia. Mary awalnya ragu, namun kemudian ia pun menyetujui permnintaan Pandji. Maka pada tahun 1992 Mary bersama Pandji berangkat berlibur ke Indonesia. “Orang Islam kalau di Indonesia menikah harus dengan orang Islam lagi,” tutur Mary mengenang ungkapan Pandji. Maka, sehari sebelum menikah Mary pun meminta syarat kepada keluarga Pandji untuk menerangkan agama Islam. “Saya minta penjelasan tentang Islam karena itu menyangkut keyakinan hubungan yang sangat dalam, saya harus kenal dulu,” ungkapnya. Mary pun diundang salah satu Kyai yang fasih berbahasa Inggris untuk menerima penjelasan ajaran Islam. Mary kemudian mencurahkan kegelisahan yang selama 15 tahun ini terbelenggu. Ia bertanya tentang konsep trinitas yang dianut agama Kristen, semisal kenapa Siti Maryam dipanggil ibu Allah, padahal Allah itu satu dan ia diciptakan oleh Allah? Bbegitu pun dengan Yesus dan puluhan pertanyaan lainnya yang dulu sempat mengganggu pikiran dan hatinya. Seluruh pertanyaan dijawab tuntas oleh Kyai tersebut, diiringi lantunan ayat alquran untuk menguatkan jawaban. Tak terasa rasa haru menyeruak di kedalaman hatinya. “Ini rahasia yang saya cari bertahun-tahun, saya tanya banyak pertanyaan dia jawab dari Alquran sampai menyentuh hati, di situ saya tertarik ajaran Islam. Allah benar-benar memberi hidayah yang sangat besar,” kenang Mary sambil menitikan air mata. Kegelisahan Mary kini terjawab sudah ia pun memutuskan untuk memeluk Islam dan menikah secara Islam di daerah Sukahaji, Gegerkalong, Bandung. Nama Maryam diambil atas usul seorang teman. Maryam Binti Imran sebagaimana diketahui adalah perempuan saleh yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk mengabdi kepada Allah. Ihwal kepindahan keyakinan ini tidak diberitahukan Mary kepada orangtuanya. “Saya tidak memberi tahu ibu. Saya takut karena orangtua Katolik, dia pasti bilang tidak boleh. Kalau bilang tidak boleh, maka saya akan nurut. Namun, sekarang Orangtua saya sudah tahu saya telah masuk Islam”, tutur perempuan yang kerap melakukan kontemplasi (perenungan) ini. Nama Siti Maryam sebagai pengabdi Allah kemudian terwujud buktinya 9 tahun kemudian. Mary semakin aktif berdakwah dari satu masjid ke masjid lainnya baik di wilayah pedesaan ataupun di perkotaan, sekitar Bandung. Ia tidak malu pergi ke tempat ceramah dengan hanya berkendara sepeda motor, atau bahkan berjalan kaki. Saat disapa Bu Mary kesini bersama siapa? Ia selalu menjawab, “bersama Allah” . Bagi Mary dasar keislaman harus dibuktikan dengan Ilmu, iman dan amal saleh. “Iman dan kesalehan adalah dua hal yang bersatu padu. Tidak ada Iman, tanpa kesalehan, tidak ada kesalehan tanpa iman. Itulah sebabnya Allah sering menyebut dua kata ini secara bersamaan. Orang-orang yang beriman dan beramal saleh,” pungkas Mary.

Tuesday, October 4, 2011

Manusia yang di cintai Alloh swt

Ternyata ada 8 manusia yang dicintai Allah : 1. Al-Muhsinin (Orang yang bersikap baik) 2. Al-muqsithin (Orang yang hidup sederhana) 3. Al-Mutawakkilin (Orang yang bertawakal) 4. Al-Muthahharin (Orang yang mensucikan diri) 5. Al-Muttaqiin (Orang yang bertaqwa) 6. Ash-shaabiriin (Orang yang sabar) 7. At-Tawwaabiin (Orang yang bertaubat) 8. Al-Mujahidin (Orang yang berjihad) . dan ada keterangan lain mengatkan : Hati adalah badan, dan Ruh adalah nyawanya. Ruh pula yang langsung terkait dengan Tuhan, dan keterkaitan itu dinamakan As-sir (Rahasia) Ruh adalah nyawanya hati, dan As-sir adalah nyawanya Ruh. Boleh juga dikatakan bahwa hakikat hati adalah Ruh, dan hakikat Ruh adalah As-sir. As-sir atau rahasia yang sampai kepada Tuhan, dan As-sir yang masuk ke hadrat-Nya. As-sir inilah mampu untuk mengenal Allah karena As-sir adalah hakikat semua yang berwujud

Cerita Perjalanan PARA WALI

Ruh itu kekal, namun Ruh akan lepas dari jasad. Kalam Allah itu kekal, namun bila kalamullah melekat dalam jasad para khufadz (orang yang hafal Al-Qur'an) maka jasadnya tidak akan pernah sirna/hancur. Hakikat manusia itu adalah Ruh, ruh itulah yang kekal, sebab itu dikatakan ilmu hakekat. Oleh demikian apabila kita mempelajarinya sungguh-sungguh ilmu rohani ini hingga membersihkan hati, waktu itu yang hanya kita miliki adalah sifat-sifat Mahmudah yaitu sifat-sifat terpuji. Sifat-sifat Mazmumah yaitu sifat-sifat terkeji sudah tidak ada lagi. Maka jadilah kita orang yang bertaqwa yang akan diberi bantuan oleh Allah SWT didunia dan akherat . Manusia itu dibagi menjadi 7 tingkatan : 1. Manusia yang berada dalam nafsul ammarah maqam mereka => Agyar 2. Manusia yang berada dalam maqam nafsul lawwamah maqam mereka => Anwar 3. Manusia yang berada dalam nafsul Mulhamah maqam mereka => Kamal 4. Manusia yang berada dalam nafsul muthma'innah 5. Manusia yang berada dalam nafsul radhiyah maqam mereka => Wisal 6. Manusia yang berada dalam maqam nafsul mardhiyah maqam mereka => Tajalli af'al 7. Manusia yang berada dalam nafsul kamillah maqam mereka => Tajalli sifat .