Showing posts with label agama islam penyejuk hati. Show all posts
Showing posts with label agama islam penyejuk hati. Show all posts

Wednesday, March 14, 2012

Kearifan ulama dan Penyebaran Agama ISLAM

Syaikhul Akbar Ibnu Araby dalam kitab Futuhatul Makkiyah membuat klasifikasi tingkatan wali dan kedudukannya. Jumlah mereka sangat banyak, ada yang terbatas dan yang tidak terbatas. Sedikitnya terdapat 9 tingkatan, secara garis besar dapat diringkas sebagai berikut :
  1. Wali Aqthab atau Wali Quthub
  2. Wali yang sangat paripurna. Ia memimpin dan menguasai wali diseluruh alam semesta. Jumlahnya hanya seorang setiap masa. Jika wali ini wafat, maka Wali Quthub lainnya yang menggantikan.
  3. Wali Aimmah
    Pembantu Wali Quthub. Posisi mereka menggantikan Wali Quthub jika wafat. Jumlahnya dua orang dalam setiap masa. Seorang bernama Abdur Robbi, bertugas menyaksikan alam malakut. Dan lainnya bernama Abdul Malik, bertugas menyaksikan alam malaikat.
  4. Wali Autad
    Jumlahnya empat orang. Berada di empat wilayah penjuru mata angin, yang masing-masing menguasai wilayahnya. Pusat wilayah berada di Kakbah. Kadang dalam Wali Autad terdapat juga wanita. Mereka bergelar Abdul Haiyi, Abdul Alim, Abdul Qadir dan Abdu Murid.
  5. Wali Abdal
    Abdal berarti pengganti. Dinamakan demikian karena jika meninggal di suatu tempat, mereka menunjuk penggantinya. Jumlah Wali Abdal sebanyak tujuh orang, yang menguasai ketujuh iklim. Pengarang kitab Futuhatul Makkiyah dan Fushus Hikam yang terkenal itu, mengaku pernah melihat dan bergaul baik dengan ke tujuh Wali Abdal di Makkatul Mukarramah.
    Pada tahun 586 di Spanyol, Ibnu Arabi bertemu Wali Abdal bernama Musa al-Baidarani. Abdul Madjid bin Salamah sahabat Ibnu Arabi pernah bertemu Wali Abdal bernama Mu’az bin al-Asyrash. Beliau kemudian menanyakan bagaimana cara mencapai kedudukan Wali Abdal. Ia menjawab dengan lapar, tidak tidur dimalam hari, banyak diam dan mengasingkan diri dari keramaian.
  6. Wali Nuqoba’
    Jumlah mereka sebanyak 12 orang dalam setiap masa. Allah memahamkan mereka tentang hukum syariat. Dengan demikian mereka akan segera menyadari terhadap semua tipuan hawa nafsu dan iblis. Jika Wali Nuqoba’ melihat bekas telapak kaki seseorang diatas tanah, mereka mengetahui apakah jejak orang alim atau bodoh, orang baik atau tidak.
  7. Wali Nujaba’
    Jumlahnya mereka sebanyak 8 orang dalam setiap masa.
  8. Wali Hawariyyun
    Berasal dari kata hawari, yang berarti pembela. Ia adalah orang yang membela agama Allah, baik dengan argumen maupun senjata. Pada zaman nabi Muhammad sebagai Hawari adalah Zubair bin Awam. Allah menganugerahkan kepada Wali Hawariyyun ilmu pengetahuan, keberanian dan ketekunan dalam beribadah.
  9. Wali Rajabiyyun
    Dinamakan demikian, karena karomahnya muncul selalu dalam bulan Rajab. Jumlah mereka sebanyak 40 orang. Terdapat di berbagai negara dan antara mereka saling mengenal. Wali Rajabiyyun dapat mengetahui batin seseorang. Wali ini setiap awal bulan Rajab, badannya terasa berat bagaikan terhimpit langit. Mereka berbaring diatas ranjang dengan tubuh kaku tak bergerak. Bahkan, akan terlihat kedua pelupuk matanya tidak berkedip hingga sore hari. Keesokan harinya perasaan seperti itu baru berkurang. Pada hari ketiga, mereka menyaksikan peristiwa ghaib.Berbagai rahasia kebesaran Allah tersingkap, padahal mereka masih tetap berbaring diatas ranjang. Keadaan Wali Rajabiyyun tetap demikian, sesudah 3 hari baru bisa berbicara.Apabila bulan Rajab berakhir, bagaikan terlepas dari ikatan lalu bangun. Ia akan kembali ke posisinya semula. Jika mereka seorang pedagang, maka akan kembali ke pekerjaannya sehari-hari sebagai pedagang.
  10. Wali Khatam
    Khatam berarti penutup. Jumlahnya hanya seorang dalam setiap masa. Wali Khatam bertugas menguasai dan mengurus wilayah kekuasaan ummat nabi Muhammd,saw.
derajat Wali yang disandang sesorang itu adalah merupakan anugrah dari Alloh yang telah dicapai seorang hamba dalam mencari Hakekat Alloh ( Arifbillah). Bahkan ibadahnya seorang wali itu lebih utama dibandingkan dengan ibadahnya seorang Ulama yang A’lim.Kenapa demikian ? seorang Wali telah mencapai hakekat Alloh sedangkan seorang ulama baru tahap mencari jalan untuk mencapai hakekat Alloh.  wali dapat diketahui dengan wali yang lain ada juga seseorang yang menjadi wali Alloh tapi dirinya tidak tahu bahwa dia seorang Wali. Wallulloh a’lam.

Tuesday, March 13, 2012

Penyebaran Agama Islam dan Habib Syekh

Penyebaran Agama Islam di daerah Kebumen tempatnya Daerah mirit  oleh simbah lancing
Mbah Lancing adalah keturunan Brawijaya V, raja terakhir Majapahit. Ceritanya begini:
Brawijaya V punya banyak istri dan anak, ada yang bilang anaknya ada 100. Dari istri yang bernama Dewi Dilah lahirlah Ario Damar (kelak jadi adipati Palembang). Dari istri yang berasal dari negeri Champa (1) lahirlah raden Hasan alias raden Fattah (kelak jadi sultan Demak). Tapi ketika raden Fattah masih dalam kandungan, putri Champa dihadiahkan kepada Ario Damar, adipati Palembang, untuk dijadikan istrinya. Dari perkawinan Ario Damar dengan putri Champa lahirlah raden Husein (kelak jadi adipati Terung).
Raden Fattah alias raden Hasan dibesarkan bersama raden Husein di Palembang dalam lingkungan beragama Islam. Setelah dewasa keduanya pergi ke ibukota Majapahit menghadap sang raja. Raden Fattah kemudian diberi tanah di Bintoro, yang kemudian menjadi kesultanan Demak Bintoro, dan raden Husein dijadikan adipati Terung (2), dikenal dengan nama Ario Timbal. Mbah Lancing adalah keturunan Brawijaya V melalui jalur: Ario Damar, Ario Timbal, raden Carangnolo, Tumenggung Wonoyudo (Wongsojoyo I), Kiai Ketijoyo, Mbah Lancing.
Mbah Lancing adalah seorang ulama yang bernama asli Kiai Sirad, ada juga yang menyebutnya Kiai Bayi.  Kiai Sirad dinamakan Mbah Lancing karena suka memakai kain batik.  Masyarakat setempat menyebut kain batik sebagai lancing.  Karena itu, sebagai penghormatan kepada Mbah Lancing makamnya ditutupi sineb atau kain batik alias lancing yang khusus dibuat dengan motif seperti yang disukai Mbah Lancing semasa hidup.
Kain batik ini disebut batik Mbah Lancing yang hanya ada di sini, dibuat dari kain mori dan diberi warna biru ditambah variasi di bagian tepinya berupa tumpal berbentuk mancungan-mancungan berwarna coklat dan hitam. Ada juga batik yang bermotif bunga dan daun diberi latar motif gringsing. Karena kain batik ini dinilai sakral, maka hanya orang tertentu yang boleh membuatnya, yaitu seorang wanita yang sudah  ”suci” alias sudah menopause, dan masih keturunan Mbah Lancing. Dan sebelum membatik harus berwudhu dahulu.  Saat ini hanya ada satu orang yang memenuhi syarat itu, dan usianya sudah di atas 60 tahun.
Kembali ke keturunan brawijaya V. Generasi selanjutnya ada yang kawin dengan cucu Mangkunegoro I, ada yang kawin dengan anaknya Arung Binang. Generasi berikutnya juga banyak yang jadi kiai. Generasi sekarang keturunan ini sebagian masih di Kebumen, selebihnya tersebar.
Kedatangan keturunan Brawijaya V di daerah Kebumen itu diduga masih ada kaitan dengan penyebaran Islam di daerah Kebumen. Pada waktu itu raden Fattah, sultan Demak, mengirim muballigh dari Hadramaut bernama Syaikh Abdul Kahfi Awwal untuk berdakwah di daerah itu. Pondok pesantren peninggalannya sampai saat ini masih ada, dikenal sebagai pondok pesantren Somalangu, atau pondok pesantren Al Kahfi.

Saturday, October 22, 2011

Sufyan Ats-Tsauri Rahimahullah Selama Tiga Hari Tidak Makan Apa-apa

Sejarawan dan ahli nasab, Ibnu Sa’ad, berkata di dalam kitabnya Ath-Thabaqatul Kubra,VI: 372, saat membicarakan Imam Sufyan Ats-Tsauri rahimahullah (lahir tahun 97 H, dan wafat tahun 161 H), “Sufyan Ats-Tsauri bersembunyi dari Khalifah Abbasiyyah Al-Mahdi karena suatu kalimat kebenaran yang ia katakan, dan membuat Al-Mahdi marah. Al-Mahdi mencarinya untuk menghukumnya. Maka, Sufyan Ats-Tsauri bersembunyi di Mekah dan tidak muncul di hadapan khalayak. Pada waktu itu, ia mengalami kemiskinan dan kesulitan hidup yang sangat berat. Saat ia dalam keadaan miskin dan sulit ini, saudara perempuannya mengirimkan sekantong khusykananaj kepadanya dari Kuffah melalui kawannya, Abu Syihab Al-Hannath. Abu Syihab Al-Hannath pun tiba di Mekah. Saat ia bertanya tentang Sufyan, maka ditunjukkan kepadanya, bahwa boleh jadi Sufyan sedang duduk di balik Ka’bah setelah pintu Al-Hannathin. Abu Syihab berkata, “Aku pun pergi ke tempat yang di maksud, Sufyan adalah kawanku. Aku melihatnya tengah terlentang, lalu aku memberinya salam. Namun, tidak bertanya apapun seperti biasanya, dan tidak menjawab salamku. Aku berkata padanya, “Sesungguhnya saudara perempuanmu mengirimkan satu kantong kue dan khusykannaj untukmu.“ Ia berkata, “Bawa sini cepat.” Lalu ia pun duduk. Aku berkata, “ Wahai Abu Abdillah, aku datang kepadamu, tetapi kamu tidak menjawabnya. Namun, ketika aku katakana kepadamu bahwa aku membawa sekantong kue yang tidak seberapa harganya, maka kamu segera duduk dan berbicara kepadaku.” Ia menjawab, “Wahai Abu Syihab, jangan menyalahkanku sudah tiga hari ini aku tidak makan apa-apa.” Abu Syihab pun berkata, “Ya,aku memakluminya.”

Thursday, October 20, 2011

Karena Hidayah Adzan Subuh Orang terpangil untuk Mukalaf

Awalnya, suara adzan Subuh adalah "musuh" bebuyutan Wahyu Soeparno Putro. Ia merasa, suara itu sangat terganggu tidurnya. Namun siapa nyana, suara adzan Subuh itu pula yang justru membawanya menemukan jalan menjadi seorang mualaf -- seorang pemeluk Islam. Sepenggal kesaksian spiritual itu seperti tak pernah bisa dilupakan pada ingatan lelaki kelahiran Skotlandia, 28 Juli 1963. Termasuk ketika berbincang santai kepada Republika yang menemuinya di sela-sela kesibukannya melakoni syuting sebuah program televisi di Jakarta, Senin (4/6) lalu. Kenangan itu ibaratnya telah menjelma menjadi semacam sebuah napak tilas spiritual tertinggi bagi pemilik nama lahir Dale Andrew Collins-Smith. Ia antusias -- walau kadang dengan berkaca-kaca -- menceritakan kisah yang dilaluinya sekitar 12 tahun silam. Tepatnya, sekitar pada 1999 atau lima tahun setelah pengelanaannya ke Yogyakarta. Dale saat itu datang ke Yogyakarta dari Australia untuk mencari nafkah dari perusahaan kerajinan yang memekerjakan sedikitnya 700 karyawan. Di Kota Gudeg itu, dia tinggal mengontrak bersama teman. Namun seiring waktu berjalan, dia kemudian bertemu dengan Soeparno. Soeparno ini adalah ayah beranak lima yang bekerja sebagai seorang satpam. Singkat cerita Dale ini kemudian diajak menetap bersama di rumah Soeparno sekaligus juga diangkat sebagai anak dari keluarga besar Soeparno. Rumah Soeparno ini letaknya hanya sepelemparan batu saja ke arah masjid. Karena tak jauh dari masjid, tak mengherankan kalau setiap pagi suara adzan Subuh itu seperti meraung-raung di dekat daun telinganya. Rutinitas itu akhirnya membuat Dale selalu terbangun di pagi hari. Bahkan setelah menetap cukup lama di rumah Soeparno itu, dia selalu terbangun 5-10 menit lebih awal dari adzan Subuh. ''Ini yang membuat saya heran,'' katanya. ''Padahal sejak kecil saya tak pernah bisa bangun pagi, tapi di sana (Yogyakarta) saya mampu merubah pola hidup saya untuk bangun pagi.'' Di tengah proses menemukan 'hidayah', Dale yang telah menjadi yatim-piatu sejak usia 20 tahun itu kemudian mulai banyak bertanya-tanya tentang Islam. Hal-hal sederhana tentang Islam seperti sholat sampai puasa menjadi pertanyaan yang mengusik batinnya. Terkadang ia pun tak sungkan untuk bertanya kepada rekan-rekannya yang menganut Islam. Pergaulan yang kian terjalin akrab dengan lingkungan Yogya itu ternyata melahirkan pula sebuah sikap toleransi beragama pada diri Dale. Ketika Ramadhan tiba dan rekan-rekannya berpuasa, dia seakan terpanggil untuk 'ikut-ikutan' berpuasa. ''Awalnya saya cuma ingin mengetahui saja seperti apa sih rasanya puasa,'' kata dia. ''Tetapi setelah tahun ke dua atau ketiga di sana, puasa saya ternyata sudah full hingga puasa tahun kemarin,'' sambungnya dengan penuh bangga. Eksperimentasi dalam menjalani ibadah puasa maupun rutinitas bangun pagi menjelang adzan Subuh itu kemudian memberikan pula semacam perasaan tenang yang menjalar di dalam diri Dale. ''Saat itu saya merasa seperti sudah sangat dekat saja dengan orang-orang di sekitar saya,'' katanya sambil mengaku pada fase tersebut dia sudah semakin fasih berbicara Indonesia. Tak merasa cukup terjawab tentang Islam pada rekan sepergaulan, Dale kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada ketua pengurus masjid dekat tempatnya tinggal. Tapi sekali lagi, hasratnya untuk mengetahui Islam masih belum terpuaskan. Maka pada suatu ketika, bertemulah dia dengan seorang ustad bernama Sigit. Ustad ini masih berada satu kampung dengan tempat tinggalnya di kediaman Soeparno. ''Waktu saya ceritakan tentang pengalaman saya, dia malah berkata kepada saya,''Sepertinya malaikat mulai dekat dengan kamu','' kata Dale menirukan ucapan Pak Sigit. Mendengar ucapan itu, Dale merasakan seperti ada yang meledak-ledak di dalam dirinya. ''Semuanya seperti jatuh ke tempatnya,'' kata dia menggambarkan situasi emosional dirinya ketika itu. ''Saat itu saya juga sudah bisa menangkap secara akal sehat tentang Islam,'' ujarnya lagi. Ledakan yang ada di dalam diri itu kemudian membawa Dale terus menjalin hubungan dengan Pak Sigit. Dari sosok ustad itu, dia mengaku mendapatkan sebuah buku tentang Islam dan muallaf. Dan pada saat itu pula, niatnya untuk mempelajari sholat kian menggelora. Di saat hasrat di dalam diri semakin 'merasa' Islam, Dale kemudian bertanya pada Soeparno. ''Saya merasa lucu karena sudah seperti merasa Muslim,'' kata dia kepada Soeparno. ''Tetapi bagaimana caranya,'' sambung dia kembali. Mendengar ucapan pria bule, Soeparno sangat terkejut. Lantas lelaki ini menyarankan agar Dale masuk Islam saja melalui bantuan Pak Sigit. Lantas tidak membutuhkan waktu lama lagi, sekitar medio 1999, Dale Andrew Collins-Smith kemudian berpindah agama sekaligus berganti nama menjadi Wahyu Soeparno Putro. Dan, prosesi 'hijrah' itu dilakukannya di masjid yang mengumandangkan adzan Subuh dekat rumahnya. Yang dulu dianggap "mengganggu" tidurnya....