Tuesday, August 23, 2011

living Room Design ,Interior Living Room Ideas




Saturday, August 20, 2011

MUJAHADAH WAHIDIYAH

Bismillaahir Rohmaanir Rohiim
 MUQADDIMAH
 ALLOH (Subhanahu Wata’ala) memberi kepada setiap manusia dua rangkaian bentuk kekuatan. Kekuatan lahir dan kekuatan batin, kekuatan jasmani dan kekuatan rohani. Kedua-duanya harus digunakan oleh manusia untuk memperoleh keselamatan dan kebahagian hidup di dunia dan di akhirat. Hanya menggunakan kemampuan lahir saja berarti menyia-nyiakan pemberian ALLOH (Subhanahu Wata’ala) yang berupa kemampuan batin dan masih tersesat, kemudian terjerumus ke dalam jurang kehancuran. Begitu juga hanya menggunakan kekuatan batin saja juga termasuk penyelewengan, yakni tidak mensyukuri ni’mat pemberian ALLOH (Subhanahu Wata’ala) berupa kekuatan lahir dan oleh karena itu tidak akan mencapai apa yang dicita-citakan, terkecuali yang mendapat fadlol khusus dari ALLOH (Subhanahu Wata’ala) . Kemampuan rohani dan kemampuan jasmani harus digunakan seirama dan seimbang.
Akan tetapi sayangnya, kebanyakan manusia hanya kekuatan lahir yang digunakan paling menonjol. Sedangkan kemampuan batin, kemampuan rohani jauh terbelakang dibanding dengan aktifitas lahir. Padahal sebenarnya kemampuan lahir itu lebih terbatas jika dibanding dengan kemampuan rohani, sekalipun kekuatan lahir disediakan pengaturan - pengaturan dan dibuatkan persiapan - persiapan yang lengkap dan canggih. Disamping itu pada kekuatan lahir banyak dijumpai resiko-resiko yang lebih berat dibanding dengan penggunaan aktifitas batin. Dan penggunaan aktifitas batin itu tidak akan mengganggu pelaksanaan aktifitas lahir, bahkan menunjangnya. Kemampuan batin atau kemampuan rohani sebaliknya adalah luas sekali. Tidak terbatas, dan justru besar sekali menunjang kelancaran penggunaan kemampuan lahir. Semakin banyak, semakin tekun menggunakan kemampuan rohani, semakin besar pula potensi bathiniyah seseorang dan semakin dekat kepada ridlo ALLOH (Subhanahu Wata’ala) dan otomatis semakin mustajab.

Wednesday, August 3, 2011

Kepasrahan untuk mendekatan diri pada Alloh swt

  1. Ikhlas. Ada orang yang pernah mengatakan, "Aku tidak tahu mengapa aku tetap mencintainya, meskipun dia telah membuat hal-hal yang tidak aku sukai." Bisa jadi, orang itu telah mencintai orang yang dicintainya apa adanya, tidak pakai syarat dan alasan.  Lalu bagaimana agar kita mampu mencintai seseorang apa adanya? Kunci pertama adalah ikhlas dan tulus, artinya kita benar-benar mencintai orang yang kita cintai tanpa syarat atau alasan. Percuma mencintai jika tidak ikhlas, karena akan membuat hati kita masih merasakan sesak. Ikhlas itu kunci untuk menjadikan hati kita seluas samudera, bukan selebar daun kelor.
  2. Sabar. Mungkin, ada kalanya orang yang kita cintai, bersikap yang tidak sesuai dengan keinginan dan kemauan kita sehingga membuat kita kesal, maka disini diperlukan kesabaran, agar kita bisa memakluminya. Mungkin orang yang kita cintai itu belum mengerti jalan pikiran kita atau belum mengetahui apa yang kita mau dan apa yang kita tidak suka. Positive thinking dan persepsi yang baik-baik saja, karena tidak ada gunanya kalau pikiran dan hati kita berprasangka buruk
  3. Bersyukur, Mencintai adalah karunia terbesar dari Allah. Mumpung rasa cinta dan kasih sayang belum dicabut oleh Allah dari hati kita, yuk.. kita bersyukur.  Bersyukur karena telah mencintai orang yang yang kita sayangi, bersyukur atas pemberian rasa cinta dan kasih sayang dari-Nya, bersyukur karena hati kita tidak mati untuk mencintai. Sahabat2ku, rasa cinta dan kasih sayang yang hadir di dalam hati kita sesungguhnya berasal dari Allah, Yang Maha Kasih, Maha Penyayang, maka hal tsb lah yang harus menjadi landasan, atau dasar kita mencintai orang-orang yang kita cintai. Bukan karena wajahnya, bukan karena materinya, bukan karena sifatnya, tapi karena Allah.
  4. Kenali Kekurangan Yang Ada Pada Diri Sendiri. Bukan hanya orang yang kita cintai yang memiliki kekurangan tetapi diri sendiri pun memiliki kekurangan. Oleh karena itu sebelum menilai kekurangan orang lain, lihatlah kekurangan yang ada pada diri sendiri. Jika sudah mengetahui kekurangan diri sendiri, terimalah kekurangan itu. Dan jika sudah dapat menerima kekurangan diri sendiri maka dapat menerima kekurangan orang lain termasuk kekurangan pasangan.
  5. Lihatlah Kelebihannya, karena orang yang benar2 mencintai tidak akan melihat dan mempermasalahkan kekurangan oarnag yang dicintainya. Jangan melihat kekurangan yang dimiliki orang yang kita cintai, tetapi lihat lah kelebihan yang dimilikinya dan jika sudah mulai ingat kekurangannya, coba ingat kelebihan yang dimilikinya. 
  6.  Menerima Apa Adanya. Tumbuhkan rasa cinta setiap hari dan biarkan bersemi. Jika cinta semakin tumbuh, maka kekurangan yang dimiliki pasangan pun akan diterima dengan sendirinya. Karena cinta yang tulus adalah menerima apa adanya semua kekurangan2 orang yang kita cintai. Cintailah semua kekurangan2 orang yang kita cintai secara utuh apa adanya. Sungguh, tiada yang lebih membahagiakan seorang wanita, bila pria yang dicintainya, mau dan bisa mencintai semua kekuarangan2nya dan menerimanya secara utuh apa adanya.
Cintailah seseorang dengan segala kesabaran dan keikhlasan hati. Cintailah seseorang dengan melihat agamanya, bukan fisiknya. Cintailah seseorang dengan semua kekurangan2 yang dimilikinya. Cintailah seseorang, tanpa melebihi rasa cinta kita padaNya

Kita melihat bagaimana Al-Qur’an membangkitkan pada diri masing-masing pasangan suami istri suatu perasaan bahwa masing-masing mereka saling membutuhkan satu sama lain dan saling menyempurnakan kekurangan. Ibaratnya wanita laksana ranting dari laki-laki dan laki-laki adalah akar bagi wanita. Karena itu akar selalu membutuhkan ranting dan ranting selalu membutuhkan akar. Sebagaimana firman Allah dalam al-A’raf 189, ”Dialah Yang menciptakan kamu dari diri yang satu dan dari padanya Dia menciptakan isterinya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, isterinya itu mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian tatkala dia merasa berat, keduanya (suami-isteri) bermohon kepada Allah, Tuhannya seraya berkata: "Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang saleh, tentulah kami termasuk orang-orang yang bersyukur”
Karena itu, sebuah pernikahan tidak hanya menyatukan dua manusia berbeda tapi juga menyatukan dua perbedaan yang berupa kelebihan dan kekurangan sepasang anak manusia. Dimana masing-masing akan saling mengisi dan melengkapi kekurangan satu dengan yang lain. “Mereka itu adalah pakaian bagimu, dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka (QS. Al Baqarah : 187)

Dengan memahami hal ini, Insya Allah kita dapat menerima semua kekurangan2 orang yang kita cintai, dan siap membina kehidupan rumah tangga dengan orang yang kita cintai. Dan Insya Allah, rumah tangga kita akan tenteram dan tenang jika dilandasi dengan keikhlasan menerima dan mencintai semua kekurangan2 pasangan kita apa adanya, dan menjadikan semua kekurangan2nya sebagai suatu kelebihan, saling memahami dan menghargai satu sama lain.

Hidayah Alloh swt kepada Manusia

Hidayah Alloh Kepada Manusia

Pernahkah sahabat2 memikirkan bahwa sesungguhnya kita berada dalam anugerah yang tiada ternilai dari Allah SWT yang memiliki kerajaan langit dan bumi, sementara begitu banyak orang yang dihalangi untuk memperolehnya?   Kita bisa tahu ajaran yang benar dari agama ini. Mana yang benar dan yang salah, tahu mana yang seharusnya dilakukan dan mana yang seharusnya ditinggalkan, lalu kita dimudahkan untuk mengikuti yang benar dan meninggalkan yang salah.   Sementara, banyak orang tidak mengerti mana yang benar dan mana yang sesat, atau ada yang tahu tapi tidak dimudahkan baginya untuk mengamalkan kebenaran, malah ia gampang berbuat kesalahan.  Kita tahu apa tujuan hidup kita dan kemana kita akan menuju. Sementara, ada orang2 yang tidak tahu untuk apa sebenarnya mereka hidup. Bahkan kebanyakan mereka menganggap, mereka hidup hanya untuk dan di dunia saja, sekedar makan, minum, dan bersenang-senang di dalamnya lalu mati dan selesailah kehidupan. Anugerah terbesar itu dalah hidayah taufiq dari Allah SWT.  Insya Allah, hidayah taufiq inilah yang akan sedikit dibahas dalam tulisan ini.

Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah [1]: 6)   “Allah SWT tidak meletakkan hidayah di dalam hati kecuali kepada orang yang pantas mendapatkannya. Adapun orang yang tidak pantas memperolehnya, maka Allah SWT tidak memberikan hidayah tersebut. Allah Yang Maha Mengetahui, Maha Memiliki Hikmah, Maha Mulia lagi Maha Tinggi, tidak memberikan hidayah kepada setiap orang, namun hanya diberikannya kepada orang yang diketahui-Nya berhak, mau dan memang pantas mendapatkannya (Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk, (QS. Al-Qashash:56). Sementara orang yang Dia ketahui tidak pantas beroleh hidayah, maka tidak diberikan hidayah tsb. Di antara sebab terhalangnya seseorang memperoleh hidayah adalah karena selalu berbuat dosa, kebatilan, kefasikan, semua ini menjadi penyebab seseorang tidak  mendapatkan  hidayah taufiq dari Allah SWT.

Barang siapa yang telah mengetahui kebenaran tetapi ia tidak menerimanya, maka ia akan terhalang dari hidayah, contohnya, seseorang yang telah tahu perbuatan dosa itu salah, tetapi ia tidak perduli dan tetap melakukannya, dan tetap melakukan penyimpangan dan kesesatan, maka orang seperti itu jauh dari hidayah Allah dan bisa menjadi orang yang di istridjat Allah. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:“ Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.  (QS. Ash-Shaf:5) dan Allah SWT juga berfirman : ”Dan begitu pula Kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya (Al-Qur’an) pada awal kalinya dan Kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat.” (QS.Al-An’am:110)

Seorang ulama atau guru dsb, hanya dapat membuka jalan, memberi peringatan dan penerangan dan bimbingan kepada jemaahnya, mengajari mana yang benar, mana yang salah. Masalah yang disampaikan oleh ulama, Ustadz atau guru itu, masuk atau tidak nya kedalam hati seseorang,  itu semua, tergantung pada Allah SWT.  Hanya Allah yang bisa memasukkan iman ke dalam hati, maka tak ada seorang pun yang kuasa melakukannya, karena ini hak Allah SWT.  Tapi memang jalan Allah memberikan petunjuk, hidayah kepada seseorang, kadang melalui dakwah yang disampaikan seseorang, hal ini sesuai sabda Rasulullah saw kepada Ali bin Abi Thalib: “Demi Allah, sesungguhnya Allah SWT  menunjuki seseorang dengan (dakwah)mu maka itu lebih bagimu dari unta merah.” (HR.Bukhari, Muslim & Ahmad). Ibnu Hajar Al-‘Asqalani ketika menjelaskan hadits ini mengatakan bahwa: “Unta merah adalah kendaraan yang sangat dibanggakan oleh orang Arab saat itu.”  Hadits ini menunjukkan bahwa usaha seorang ulama menyampaikan hidayah kepada seseorang adalah sesuatu yang amat besar nilainya di sisi Allah SWT, lebih besar dan lebih baik dari kebanggaan seseorang terhadap kendaraan mewah miliknya.Dalam riwayat Al-Hakim disebutkan:“Wahai Ali, sesungguhnya Allah SWT menunjuki seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat manapun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya). (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak).

Karena itu, marilah kita selalu berusaha menyampaikan dan membagi ilmu pengetahuan yang di karuniakanNya untuk kita, dan bila sahabat2 belum merasa mampu melakukan semua kebaikan yang akan sahabat bagi,  janganlah  ragu2 untuk mengajak orang lain berbuat baik atau mengajak orang pada jalan kebaikan.  Dari anas ra: para sahabat bertanya " Ya Rasulullah, kami tidak akan menyuruh orang lain berbuat baik sebelum kami sendiri mengamalkan kebaikan dan menjauhi kemungkaran Rasulullah bersabda : tidak, bahkan serulah untuk berbuat baik meskipun kalian belum mengamalkan kesemuanya, dan cegahlah kemungkaran, meski kalian belum menghindari semuanya" (HR.Thabrani). siapa tahu, apa yang kita sampaikan, bisa menjadi jalan hidayah Allah bagi seseorang.

Mungkin ada sahabat2 yang bertanya, bagaimana seorang mukmin yang selalu meminta hidayah dalam setiap waktu shalatnya ”Tunjukkanlah kami jalan yang lurus. (QS. Al-Fatihah [1]: 6).   bukankah dengan shalatnya, berarti ia telah memperoleh hidayah? Apakah itu berarti seorang hamba meminta apa yang sudah ada padanya? Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullahu memberikan jawabannya:  Allah SWT membimbing hamba-hambanya untuk meminta hidayah, karena setiap insan membutuhkannya siang dan malam.  Seorang hamba butuh kepada Allah SWT setiap saat untuk mengokohkannya di atas hidayah, agar hidayah itu bertambah dan terus menerus dimilikinya, karena seorang hamba tidak dapat memberikan manfaat dan tidak dapat menolak kemudharatan dari dirinya, kecuali dengan pertolongan Allah.
“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan kepada kitab yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya serta kitab yang Allah turunkan sebelumnya…” (QS. An-Nisa’: 136).  Dalam ayat ini, Allah‘SWT memerintahkan orang-orang yang telah beriman agar TETAP BERIMAN. Ini bukanlah perintah untuk melakukan sesuatu yang belum ada, (iman sudah ada) karena yang dimaksudkan dengan perintah beriman di sini adalah perintah  agar tetap terus menerus dalam keimanan, kokoh dalam keimanan agar terhindar dari kesesatan.

Tidak semua orang berkemauan untuk mengamalkan agama ini. Kemauan untuk mengamalkan agama akan berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa manggapai hidayah taufiq.  
Hidayah taufiq. Hidayah taufiq adalah adalah hidayah yang membuat manusia hanya akan menjadikan agama sebagai panduan hidup dalam menjalani kehidupannya. Hidayah taufiq ibarat benih yang Allah SWT semaikan di hati yang tidak hanya bersih dari segala hama penyakit, tetapi juga subur dengan tetesan robbani. Bersih dan suburnya hati akan terlihat dari pohon-pohon kebaikan dan amal yang tumbuh di atasnya. Hanya kesungguhan yang akan membuat kita pantas menerima hidayah taufiq dari Allah SWT. Firman Allah SWT : ”Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) kami, benar- benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabuut [29]: 69). Maka tidak ada jalan lain agar kita mendapatkan Hidayah Taufiq Allah SWT, kecuali dengan jalan bersungguh-sungguh dan berjihad untuk menjalankan dan mengamalkan agama yang indah ini.

Hidayah Taufiq, yaitu suatu kekuatan yang Allah SWT berikan pada manusia untuk mengamalkan dengan sungguh2 apa yang telah diketahuinya. Hidayah taufiq merupakan hidayah yang sangat mahal, tetapi Allah berjanji kepada manusia akan memberikan hidayah-Nya kepada orang2 yang sungguh2 berjuang di jalan-Nya, berjuang untuk konsisten taat pada aturan-Nya di dalam mencapai tujuannya “ Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar- benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik (QS. Al-Ankabuut :69). Hidayah taufiq hanya merupakan hak prerogatif Allah. Dia memberikannya kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.  Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk. (QS. Al-Qashash:56).

Namun memang adakalanya, Allah SWT yang Maha Pengampun dan Pengasih lagi Maha penyayang, memberikan hidayah kepada seorang hambaNya yang banyak berbuat dosa dan maksiat, ini semua adalah hak preogatif Allah, mungkin orang tersebut banyak berbuat dosa karena ketidaktahuannya (kebodohannya) dan mungkin juga karena sebenarnya dalam hatinya, ia benar2 tulus ingin berhenti dari perbuatan dosa yang dilakukannya, dan Allah mengetahui segala isi hati hambaNya, sehingga kadang diberikanlah hidayah untuk orang tersebut agar kembali ke jalan yang benar., karena Allah tahu siapa yang mau menerima petunjuk. Lihat ayat diatas QS. Al-Qashash:56.

BERIKUT DIANTARA CARA MERAIH HIDAYAH ALLAH :
  1. Berdoa, sebagaimana firman Allah ”Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia)." (QS. Ali Imran :8). Allah Maha Mengabulkan doa lihat QS. Al-Baqarah, 2:186 dan QS. Al-Mu'min, 40:60.
  2.  Riyadhah Ruhiyyah/latihan spritual, yaitu dengan bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah kepada Allah, dan menjalankan ibdah sunnah misalnya qiyamul lail, shaum sunnah, shadaqah, menghadiri majelis ta'lim, shalat2 sunnah, pengendalian nafsu.  Dan dengan mentauhidkan-Nya dan menjauhi syirik .  
  3. Memperbanyak amal shaleh, setiap amal shaleh yang ikhlas dan sesuai dengan tuntunan. Allah SWT berfirman ”Dan Allah akan menambah petunjuk kepada mereka yang telah mendapat petunjuk. Dan amal-amal saleh yang kekal itu lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu dan lebih baik kesudahannya.  (QS. Maryam, 19:76).
  4. Bergaul dengan orang2 shaleh. Lingkungan memegang peranan penting dalam pembentukan karakter kita, lihat QS. Al-Kahfi :28). Dan doa : QS. Asy Syu'araa, :83
Hidayah Allah SWT memerlukan perjuangan untuk mendapatkannya. Semakin besar perjuangan dan kesungguhan kita, maka insya Allah kita akan semakin mudah mendapatkannya, karena semuanya tergantung kepada usaha kita. Hidayah Allah SWT ibarat sinar matahari yang menyinari seluruh alam ini, dan kita adalah penerima sinar tersebut. Jika kita membuka diri dengan hati yang bersih maka kita akan mudah untuk mendapatkan sinar hidayah Allah SWT. Tapi jika kita menutupi hati dan diri kita dengan kotoran dan hama penyakit hati maka kita akan sulit untuk mendapatkan sinar hidayah-Nya

Saturday, July 9, 2011

Kisah di sebalik gelaran 'Saifullah' - Pedang Allah

Rasulullah Sollallahualaihiwasallam telah mengutuskan segerombolan tentera bagi menyerang Rom sebagai menuntut bela atas kematian Al-Harith bin 'Umair Al-Azdiy radiyallahuanhu yg ditugaskan sebagai utusan Baginda kepada pemerintah Busra. Baginda telah menamakan 3 orang panglima. Panglima pertama, Zaid bin Harithah radiyallahuanhu. Jika gugur, maka Jaafar bin Abi Talib radiyallahuanhu. Jika gugur, maka Abdullah bin Rawahah radiyallahuanhu. Perang ini dikenali dengan Peperangan Mu'tah.

Pasukan tentera Muslimin yg berjumlah 3 ribu orang akan berhadapan dengan sejumlah 150 ribu tentera Rom dan golongan Kristian Arab. Perang meletus. Zaid bin Harithah radiyallahuanhu gugur syahid. Panji dipegang pula oleh Jaafar bin Abi Talib radiyallahuanhu sebagaimana yg diperintahkan Baginda. Lalu, Jaafar radiyallahuanhu juga terbunuh syahid. Lantas, Abdullah bin Rawahah radiyallahuanhu pula menggantikannya. Akhirnya , beliau juga syahid. Hampir sahaja tentera Muslimin berundur ke belakang sehinggalah 'Uqbah bin 'Amir radiyallahuanhu [1] menyeru, "Wahai kaum, sesungguhnya seorang manusia yg terbunuh dalam keadaan berhadapan dengan musuhnya lebih mulia daripada yg mati terbunuh membelakangi mereka." Tentera Muslimin kembali thabat.

Mereka sepakat melantik Khalid Al-Walid radiyallahuanhu untuk menjadi panglima perang menggantikan panglima terakhir. Amanah berat itu terpaksa ditanggungnya. Pada hari itu, beliau menyerang musuh penuh berani. Keesokannya, beliau yg terkenal dengan pakar strategi perang sejak di alam jahiliyah lagi telah menukar susunan tenteranya. Yang menunggang diarahkan supaya menggantikan kedudukan tentera yg berjalan kaki. Yang berjalan kaki pula diperintahkan menunggang kuda. Yang di sebelah kanan bertukar ke sebelah kiri. Yang kiri pula ke bergerak ke sebelah kanan. Maka, tentera Rom gentar kerana menyangka bahawa tentera bantuan telah tiba untuk menolong tentera Muslimin. Kehandalan dan kemahiran Khalid dalam ketenteraan tidak dapat disangkal lagi.

Setelah 7 hari bertempur, akhirnya tentera Rom berundur mengalah. Tentera Muslimin pula pulang ke Madinah. Sebelum berita kematian ketiga-tiga panglima sampai ke telinga Baginda, wahyu dari langit telah pun mendahului.

Baginda bersabda,

"Zaid memegang panji lalu terbunuh. Kemudian, Jaafar pula memegangnya lalu terbunuh. Kemudian, Ibnu Rawahah pula memegangnya lalu terbunuh." Air mata Baginda mengalir. Kemudian Baginda berkata, "Sehinggalah panji dipegang oleh sebilah pedang daripada pedang-pedang Allah hingga Allah memberi kemenangan kepada mereka." Riwayat Bukhari.

Ketika tentera tiba di Madinah, penduduk Madinah memanggil mereka, "Wahai orang-orang yg lari dari medan perang..." kerana menyangka bahawa berundurnya Khalid dan tentera sebagai satu kekalahan sedang Baginda pula menganggap itu sebagai strategi lalu bersabda, "Bahkan mereka ialah orang-orang yg mara...". Baginda juga memuji kehandalan Khalid Al-Walid.


Hikmah kematian Khalid Al-Walid radiyallahuanhu di atas pembaringan

Sebahagian dari kita tertanya-tanya, mengapakah Khalid radiyallahuanhu mati di atas pembaringan sedangkan beliau telah menyertai peperangan yg teramat banyak? Mengapa Khalid radiyallahuanhu tidak terpilih mati sebagai syahid?

Para ulama kita menjawab dengan penuh bijaksana, "Pedang Allah (Saifullah) tidak akan sama sekali patah." Jika Khalid syahid di medan tempur, ini akan menjadi hujah kepada musuh Islam bahawa pedang Allah juga mampu untuk dikalahkan.

Mudah-mudahan anak buah saya yg baru lahir ini, Ahmad Saifullah mewarisi kewibawaan dan ketokohan Sayyiduna Khalid bin Al-Walid radiyallahuanhu yg bermati-matian memperjuangkan Islam tanpa mengenal erti penat dan lelah. Ya Allah, himpunkan kami bersama-sama mereka. Amin

Ajaran islam cara melebur Dosa

Hasan al-Bashri seorang ulama terkemuka asal Basharah Irak menyaksikan seorang pemuda datang pada seorang dokter menanyakan hal berikut : Wahai dokter apakah Anda memiliki resep obat mujarab yang bisa menghapus dosa-dosa dan menyembuhkan penyakit hati?
Dokter itu menjawab : Ya!
Pemuda itu berkata : Berikan padaku resep mujarab itu!
Dokter berkata : "Ambillah sepuluh bahan pelebur dosa itu :
Ambillah akar pohon rasa fakir dan menghajatkan pada Allah bersama dengan akar kerendahan hati yang tulus dan ikhlas kepada Allah. Jadikan taubat sebagai campurannya. Lalu masukkan dalam wadah ridha atas semua ketentuan dan takdir Allah. Aduklah dengan adukan qana'ah rasa puas dengan apa yang telah Allah berikan kepada kita. Masukkan dalam kuali takwa. Tuangkan ke dalamnya air rasa malu lalu didihkanlah dengan api cinta dan masukkan dalam adonan syukur serta keringkan dengan kipasan harap lalu minumlah dengan sendok pujian (al-hamdu).
Jika engkau mampu melakukannya pastilah engkau mampu mencegah penyakit dan ujian baik di dunia maupun akhirat" pungkas dokter itu.
Banyak orang melakukan dosa dan kedurjanaan kepada Allah karena dia merasa cukup dengan kemampuan dirinya dan seakan tidak lagi membutuhkan pada apapun, termasuk pada Sang Mahakaya. Dia beranggapan bahwa dirinya mampu melakukan semua hal dengan kekuatan dan kemampuannya, dengan potensi dan energi dirinya. Dia merasa bahwa semua yang dia dapatkan adalah hasil dari kekuatan pikirannya, kemampuan ilmunya, kejernihan kalkulasinya, kematangan hitungan-hitungannya. Inilah yang terjadi pada Qarun yang angkuh dengan harta yang dimilikinya yang kemudian Allah turunkan adzab padanya dengan ditelannya dia oleh bumi yang tidak lagi suka pada kecongkakan, kesombongan dan keangkuhan yang dia pamerkan sehingga membuat bumi gerah.
Sumber dosa lainnya adalah karena orang itu ridak ridha dengan apa yang Allah tetapkan pada dirinya. Sering kali dari bibirnya keluar keluhan dan bahkan gugatan kepada Allah kepada Dia tidak memberikan yang "terbaik" menurut pandangannya, menurut persepsinya, menurut pemikirannya. Dia menyangka bahwa apa yang dia alami saat ini tidaklah tepat bagi dirinya, tidak pantas untuk dirinya, tidak layak dialaminya. Dia seakan lebih tahu dari Allah Yang Mahatahu yang mengerti semua detil perkara yang baik dan yang buruk bagi hamba-Nya. Inilah yang terjadi pada Qabil tatkala menuntut ayahnya agar dia dinikahkan dengan adik kembarnya padahal Allah telah menentukan lain untuknya.
Lambat kembali kepada Allah merupakan penyebab lain dari tidak hancurnya dosa-dosa yang kita lakukan. Terjadi pengendapan dosa karena seringnya kita menunda taubat yang seharusnya cepat kita lakukan. Padahal Allah memerintahkan kita untuk segera merapatkan diri kepada Allah setelah beberapa lama kita telah menjauhinya. Getarkan hati kita semua dengan sesal atas semua kesalahan yang kita lakukan. Mereka seakan tidak tahu bahwa Allah senantiasa menerima taubat hamba-Nya dan Allah sangat senang dengan taubat mereka.
Sebagaimana yang Allah firmankan :
ألم يعلموا أن الله هو يقبل التوبة عن عباده ويأخذ الصدقات وأن الله هو التواب الرحيم
Tidakkah mereka mengetahui, bahwasanya Allah menerima tobat dari hamba-hamba-Nya dan menerima zakat, dan bahwasanya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang? (At-Taubah : 104).
Rasa tidak puas dengan apa yang Allah berikan pada kita merupakan penyakit kronis yang melahirkan buruk sangka kepada Allah, mendekti kehendak Allah, menyalahkan Allah. Rasa tidak puas dengan karunia Allah akan mengecilkan rasa syukur kita pada-Nya dan bahkan suatu saat akan memadamkannya. Lenyapnya rasa qana'ah atas karunia-Nya akan membuahkan ketamakan dan ketamakan akan melahirkan kezhaliman-kezhaliman. Dari kezhaliman akan memunculkan kerusakan-kerusakan yang menghancurkan tatanan kehidupan.
Jika dalam diri kita telah ada rasa kefakiran, rasa ridha dan qana'ah dan taubat maka semangat takwa kepada Allah hendaknya kita pupuk terus menerus dan kita bina dengan seksama. Sebab ketakwaan itu laksana sebuah tanaman yang jika dibina dengan sebaik-baiknya maka dia akan tumbuh subur dan indah dan jika kita telantarkan maka ketakwaan itu akan segera layu dan lesu. Ketakwaan bisa kita sirami dengan dengan rasa takut pada Allah (al-khawf min al-Jalil), mengamalkan nilai-nilai all-Quran (al-'amal bi al-Tanzil), puas dengan yang ada (al-qana'ah bi al-qalil) dan mempersiapkan diri sepenuhnya untuk perjalanan akhir : kematian ( al-isti'dad li yaum al-Rahil). Jadikan takwa terus terus tumbuh berkembang dan berkelanjutan sampai maut datang menjelang. Hendaknya kita menggenjot ketakwaan kita sampai pada puncaknya, pada titik kulminasinya.
يا أيها الذين آمنوا اتقوا الله حق تقاته ولا تموتن إلا وأنتم مسلمون
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (Ali Imran : 102).
Ketakwaan kita akan semakin bermakna mana kala yang menjadi pendorongnya adalah mahabbah cinta pada Allah. Cinta pada Allah sepenuh jiwa dan hati. Cinta yang tidak lagi membuatnya berpkir untuk dan rugi dalam menjalankan perintah dan anjuran-Nya. Semangat cinta yang membakar hatinya akan senantiasa menggerakkannya untuk senantiasa dekat, merapat dan bergiat untuk merengkuh ridha dan kasih-Nya, meminum cawan rahmat-Nya dalam setiap langkah-langkah hidup dan goresan sejarahnya. Rasa cintanya yang menggelegak pada Allah akan senantiasa membuat hidup terasa hidup, langkahnya demikian pasti menuju Sang Kekasih. Cawan cintanya senantiasa tumpah ruah dengan air mata takwa, ridha qanah, taubat syukur, tawakkal dan sabar.
Bagi para pecinta yang dipikirkan bukan lagi dirinya tapi Dzat yang dicintainya dan dia larut dalam gelombang kasih-Nya, larut dalam rahmat-Nya masuk dalam dekapan kasih sayang-Nya.
Ramuan kefakiran pada Allah+taubat+ridha+qana'ah+takwa+malu+mahabbah cinta+syukur+harap (raja') dan tahmid akan membersihkan dosa kita, melelehkan bebukitan kesalahan kita.
Dan yakinlah bahwa ramuan itu selain menghapuskan dosa kita dia juga akan menambah vitalitas keimanan kita semua menambah energi keislaman kita dan memantapkan akar ihsan kita.
Selama mencoba! Pastilah kita akan merasan khasiatnya. Dengan hasil jiwa nan segar dan jiwa yang jernih. Dengan dosa yang minim setiap hari.

Thursday, July 7, 2011

Terwujudnya cita-cita mengunakan proses

etika Sistem Pendidikan, Sosial, Politik, Ekonomi, budaya dan Hukum sudah menyimpang jauh dari Aturan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Maka kita semua bisa menilai apa sedang terjadi saat ini di Negara kita dan juga seluruh Dunia ?
 Hanya menyesali dan menyalahkan Sistem yang eksis saat ini bukanlah sikap yang bijak, kalau boleh kita analogikan di setiap Negara ada sebuah pohon Raksasa yang sangat-sagat rindang dan sejuk tetapi sayang buahnya pahit rasanya walau pahit mereka semua memakannya, hampir seluruh penduduk di negeri ini bernaung di bawah pohon itu dan ikut menjaga, merawat dan memperjuangkan agar jangan sampai pohon itu tumbang, untuk merawat pohon tersebut diperlukan pupuk spesial yang sangat mahal harus diimpor dari Luar negeri dengan cara berhutang.

Mayoritas penduduk di negeri itu membanggakan, mengagung-agungkan bahkan tidak sedikit yang menyembah pohon itu, inilah yang menyebabkan kaum minoritas negeri itu marah dan ingin memberontak melakukan revolusi untuk menumbangkan pohon itu. Ada yang marah dengan mencaci maki, ada yang suka mendemontrasi dan memprovokasi dan ada yang nekat dengan melempar bom dan mengirim milisi, yang semuanya berujung dengan frustasi.

Namun ada yang diam-diam namun pasti diantara mereka menanam pohon sendiri dari biji yang suci hanya ingin mengharap Ridho Ilahi, dengan harapan kelak dikemudian hari tumbuh menjulang tinggi memenuhi tuntutan gizi seluruh penduduk negeri ini.
 Sahabat, di awal tahun baru ini mari kita awali dengan menanam benih-benih kebajikan, benih-benih amal shaleh moga kelak di akhir tahun atau di akhir hayat nanti kita sudah tinggal menikmati.
 Tak akan ada yang tumbuh atau berbuah dimasa yang akan datang jika hari ini kita tidak pernah menanam.
 Apa yang harus kita tanam hari ini dan apa pula buah yang akan petik kelak ? Rosulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam memberi arahan kepada kita agar menjadi seperti yang kita cita-citakan, berikut ini
 Seorang sahabat bertanya kepada Rosulullah Sallallahu 'alaihi Wasallam , Dia berkata : Aku ingin menjadi seorang Ulama’ (orang yang memiliki kedalaman ilmu).
 Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam  menjawab : Takutlah kepada Allah maka engkau akan jadi Ulama’
 Dia berkata : Aku ingin menjadi orang paling kaya

 Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam  menjawab : Jadilah orang yang yakin pada diri sendiri maka engkau akan jadi orang paling kaya
 Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang adil
  Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab: Kasihanilah manusia yang lain sebagaimana engkau kasih pada diri sendiri maka jadilah engkau seadil-adil manusia
 Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang paling baik
  Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab: Jadilah orang yang berguna kepada masyarakat maka engkau akan jadi sebaik-baik manusia
 Dia berkata : Aku ingin menjadi orang yang istimewa di sisi Allah
  Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam  menjawab : Banyakkan dzikrullah niscaya engkau akan jadi orang istimewa di sisi Allah
 Dia berkata : Aku ingin disempurnakan imanku
 Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Baikkanlah akhlakmu niscaya imanmu akan sempurna
 Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang taat


Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Tunaikan segala kewajiban yang difardhukan maka engkau akan termasuk dalam golongan mereka yang taat
 Dia berkata : Aku ingin berjumpa Allah dalan keadaan bersih dari dosa

 Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Banyaklah beristighfar niscaya niscaya engkau akan menemui Allah dalam keadaan suci dari dosa
 Dia berkata : Aku ingin menjadi semulia-mulia manusia
 Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Jangan berprasangka buruk pada orang lain niscaya engkau akan jadi semulia-mulia manusia

Dia berkata : Aku ingin menjadi segagah-gagah manusia
 
Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam  menjawab : Senantiasa berserah diri (tawakkal) kepada Allah niscaya engkau akan jadi segagah-gagah manusia
 Dia berkata : Aku ingin dimurahkan rezeki oleh Allah

Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Senantiasa berada dalam keadaan bersih ( dari hadast ) niscaya Allah akan memurahkan rezeki kepadamu

Dia berkata : Aku ingin termasuk dalam golongan mereka yang dikasihi oleh Allah dan rasulNya
 
Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam  menjawab : Cintailah segala apa yang disukai oleh Allah dan rasulNya maka engkau termasuk dalam golongan yang dicintai oleh Allah dan RasulNya

Dia berkata : Aku ingin diselamatkan dari kemurkaan Allah pada hari qiamat


Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Jangan marah kepada orang lain niscaya engkau akan selamat dari kemurkaan Allah dan rasulNya

Dia berkata : Aku ingin diterima segala permohonanku
 
Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Jauhilah makanan haram niscaya segala permohonanmu akan diterimaNya

Dia berkata : Aku ingin agar Allah menutupkan segala keaibanku pada hari qiamat
 
Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Tutupilah keburukan orang lain niscaya Allah akan menutup keaibanmu pada hari qiamat

Dia berkata : Siapa yang selamat dari dosa?


Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Orang yang senantiasa mengalirkan air mata penyesalan, mereka yang tunduk pada kehendakNya dan mereka yang ditimpa kesakitan

Dia berkata : Apakah kebaikan terbesar di sisi Allah?


Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Baik budi pekerti, rendah diri dan sabar menghadapi cobaan Allah

Dia berkata : Apakah kejahatan terbesar di sisi Allah?


Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Buruk akhlak dan sedikit ketaatan

Dia berkata : Apakah yang meredakan kemurkaan Allah di dunia dan akhirat ?


Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : Sedekah dalam keadaan sembunyi dan menghubungkan persaudaraan

Dia berkata: Apakan yang akan memadamkan api neraka pada hari qiamat?


Baginda Sallallahu 'alaihi Wasallam menjawab : sabar di dunia dengan bala dan musibah

Mari kita tanam benih-benih kebajikan diawal bulan dan tahun ini