Sabda Rasulullah SAW: “Siwak adalah pensuci mulut dan pembawa keridhoan Allah” (shahih Bukhari)
Dari Hudzaifah ra berkata: “Bahwa Nabi SAW jika bangun dari malam hari, membersihkan mulutnya dengan siwak” (shahih Bukhari)
Assalamu’alaikum warahamatullahi wabarakatuh
Limpahan puji kehadirat Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Luhur, Yang
Melimpahkan kepada kita rahasia keluhuran, dan rahasia kebahagiaan,
serta menerbitkan untuk kita rahasia kerajaan terluhur dari segenap
kerajaan yaitu kerajaan sanubari, yang telah difirmankan oleh Allah
subhanahu wata’ala di dalam hadits qudsiy :
“Tidaklah bumi atau langitKu dapat menampung-Ku, tapi hati hamba-Ku yang beriman dapat menampung-Ku”
Tiada akan pernah mampu langit dan bumi untuk menampung rahasia
sifat-sifat keluhuran Ilahi kecuali sanubari seorang mukmin, yang
meskipun bentuknya sangat kecil namun kerajaannya sangat luas, sehingga
disiapkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk menampung cahaya Allah,
keridhaan Allah, kemuliaan Allah, keluhuran Allah, kasih sayang dan
kecintaan Allah, serta segala kemuliaan yang tidak mampu ditampung oleh
alam semesta sekalipun, sebagaimana yang talah disampaikan oleh guru
kita Al Musnid Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim Al Hafidh di dalam
kitab beliau “Mamlakatul Quluub Wal A’dhaa” , bahwa kerajaan terbesar
adalah kerajaan sanubari. Dimana ketika hati kita dipenuhi dengan
keluhuran dari sang pembawa semulia-mulia keluhuran, sayyidina Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam maka hati itu akan terang benderang dan
bercahaya, sehingga terbitlah keluhuran dan sirna segala sifat yang
hina, maka dengan kehadiran kita di malam hari ini sungguh kita berada
di dalam keluhuran dan sedang menaiki tangga-tangga keluhuran, dan
selalu berusahalah untuk semakin baik dan teruslah berjuang dalam
kehidupan ini, karena kehidupan adalah perjuangan dan sebagai modal
untuk mencapai kesempurnaan akhirat. Kehidupan dunia adalah modal
terbesar dari Allah subhanahu wata’ala untuk kita mencapai kebahagiaan
yang abadi di akhirat. Dan seluruh kenikmatan yang disiapkan dan
diberikan oleh Allah kepada kita, kesemuanya akan dipertanyakan oleh
Allah subhanahu wata’ala, apakah digunakan untuk mencapai keluhuran yang
kekal atau hanya sekedar terlewatkan untuk memenuhi hawa nafsu saja.
Oleh karena itu sebagaimana yang tadi telah disampaikan oleh guru-guru
kita bahwa sungguh berat perjuangan hidup ini, yang dipenuhi banyak
godaan syaithan, namun banyak pula kemuliaan-kemuliaan seperti kemuliaan
majelis ta’alim, majelis dzikir, majelis shalawat dan lainnya, yang
kesemua itu merupakan rahasia kemuliaan tuntunan nabi Muhammad
shallallahu ‘alaihi wasallam yang harus kita panut. Namun kita juga
harus waspada terhadap diri kita, yang mana kita sering menghadiri
majelis-majelis mulia dengan harapan untuk membersihkan hati kita, maka
setelah keluar dari majelis tersebut kita harus membenahi dan menguatkan
diri dari godaan syaithan yang terus mengajak manusia kepada kehinaan,
yang selalu mengajak manusia untuk memperhatikan pada hal-hal yang fana
dan membuat kita melupakan hal-hal yang kekal dan abadi.
Hadits
yang kita telah kita baca tadi terdapat banyak riwayat di dalam
Shahihul Bukhari, yaitu hadits mengenai siwak. Kita ketahui siwak adalah
sesuatu yang sangat kecil bentuknya yang lebih kecil atau hanya sebesar
ibu jari saja, namun hal tersebut (siwak) membuka sesuatu yang paling
berharga dalam sepanjang alam semesta ini tercipta hingga alam ini
berakhir dan berlanjut dengan kehidupan di alam yang abadi, hal itu
adalah keridhaan Allah subhanahu wata’ala. Diriwayatkan di dalam Shahih
Al Bukhari dimana ketika penduduk surga telah memasuki surga dan
menikmati seluruh kenikmatan surga, kemudian Allah berfirman dalam
hadits qudsi :
“Wahai penghuni surga!, mereka menjawab, “Kami
memenuhi panggilan-Mu wahai Rabb. Seluruh kebaikan hanya ada pada kedua
tangan-Mu.”, kemudian Allah berfirman: “Apakah kalian puas terhadap
limpahan nikmat-Ku?” mereka menjawab, “Apa yang membuat kami tidak ridho
terhadap-Mu wahai Rabb, padahal Engkau telah memberikan kepada kami
kenikmatan yang tidak Engkau berikan kepada seorangpun dari makhluk-Mu.”
Allah berfirman: “Maukah kalian Aku berikan kenikmatan yang lebih
afdhal daripada kenikmatan itu”?, mereka menjawab, “Wahai Rabb,
kenikmatan manakah yang lebih afdhal daripada kenikmatan itu?” Allah
berfirman: “Aku akan limpahkan keridhoan-Ku kepada kalian, sehingga Aku
tidak akan murka kepada kalian selama-lamanya”.
Maka keridhaan
Allah adalah hal yang paling berharga bahkan dari surga sekalipun dan
kenikmatan-kenikmatan dia dalamnya. Dan ternyata rahasia keluhuran ridha
Allah itu pun tersimpan dalam sebatang siwak, sebagaimana yang telah
disabdakan oleh sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam :
“Siwak itu membersihkan mulut, diridhai oleh Ar-Rabb (Allah). ( shahih bukhari )”
Maka siwak tidak hanya membersihkan mulut, karena jika hanya untuk
membersihkan mulut bisa menggunakan sikat gigi seperti zaman sekarang
ini, yang bahkan mungkin lebih membersihkan daripada siwak. Namun yang
dimaksud dalam hadits tersebut siwak tidak hanya membersihkan mulut saja
namun juga membersihkan dosa yang ada di mulut, sebagaimana mulut juga
melakukan perbuatan dosa seprti mencaci, mengumpat dan lainnya maka
dosa-dosa itu akan terbersihkan dengan siwak, sebagaimana kelanjutan
dari hadits tersebut bahwa siwak juga membawa kepada kerihdaan Allah
subhanahu wata’ala. Maka siwak merupakan hal yang sangat agung dari
sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam yang meskipun
tampaknya sangat remeh dan sepele. Adapun hadits yang diriwayatkan oleh
sayyidina Abi Hudzaifah ini menunjukkan bahwa Rasulullah shallallahu
‘alaihi wasallam ketika bangun di malam hari maka beliau menggunakan
siwak Dan kalimat يَشُوْصُ (menggosok ) dalam hadits tersebut
sebagaimana yang dijelaskan di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al
Bukhari maksudnya yaitu menggunakan siwak dengan memutarkan pada gigi
bagian atas dan bawah, di bagian kiri atau pun kanan untuk
membersihkannya. Namun secara ringkas adalah bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam memulai hampir semua perbuatan dengan
bersiwak, hingga disebutkan bahwa siwak adalah akhir sunnah beliau saat
beliau dalam keadaan sakaratul maut, dimana beliau tidak menghembuskan
nafas yang terakhir yang di saat itu beliau berada di pangkuan sayyidah
Aisyah Ra lantas beliau melirik pada siwak yang dipegang oleh saudara
lelaki sayyidah Aisyah Ra, maka melihat hal tersebut sayyidah Aisyah Ra
berkata : “Apakah engkau menginginkan siwak wahai Rasulullah”, lalu
beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengangguk, kemudian sayyidah Aisyah
meminta siwak yang dipegang oleh saudara lelakinya lalu membersihkannya
dan kemudian disiwakkan kepada nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi
wasallam dan setelah bersiwak, beliau shallallahu ‘alaihi wasalla
menunjuk ke langit dan berkata : (Menuju Teman (Kekasih) Yang Maha
Tinggi), kemudian beliau menghembuskan nafas terakhir. Maka dijelaskan
bahwa siwak adalah sunnah Rasulullah yang terakhir dilakukan oleh beliau
sebelum wafat. Maka selayaknya bagi kita untuk selalu menggunakan siwak
dan tidak meninggalkannya dalam kehidupan kita. Juga dijelaskan bahwa
siwak adalah sebagai(senjata seorang mukmin) maka jadikanlah siwak itu
selalu bersama kita, karena syaithan tidak suka dengan adanya siwak
sehingga sering siwak itu menghilang. Maka diajarkan oleh guru mulia
kita untuk memperbanyak siwak, dengan meletakkannya di baju, di kamar,
di ruang tamu, di tas dan lainnya sehingga tidak tertipu oleh syaitan